“Love means never having to say you’re sorry” : Erich Segal.
Ada banyak sekali makna dan rasa kata maaf, tidak selalu bergantung situasi karena kadang-kadang situasi tidak lagi menentukan makna, karena sudah terjadi inflasi kata maaf disebabkan penggunaan yang serampangan.
Ada banyak quote tentang maaf, yang berhasil menunjukkan betapa inflasi makna kata maaf sudah membuatnya menjadi layer tipis, dan dangkal. Hanya di permukaan. Tentang basa-basi ini ada di sini <<< biar posting lama re-up.
Dengan posting pendek ini, saya ingin mengusulkan untuk membatasi penggunaan kata maaf, ya.., kata membatasi yang saia usulkan itu tidaklah harfiah, tapi semacam kesadaran bahwa ucapan maaf itu tidak sepele, coba bayangkan, karena kecerobohan anda melakukan sesuatu, tanpa anda sadari orang menjadi celaka dalam waktu yang lama, kemudian pada saat tertentu anda dengan enteng bilang maaf.
Atau sebuah kecelakaan kecil, kemudian karena anda memang kagetan/latah, maka keluarlah sumpah serapah daftar nama penghuni kebun binatang seperti meriam renteng ato mercon gantung, dan setelahnya anda dengan enteng minta maaf. Coba, itu hanya contoh kejadian2 kecil.
Belum kejahatan besar seperti pembunuhan politis yang massal ato korupsi, hari2 ini berita diramaikan usulan sinting petinggi negara untuk memaafkan saja koruptor, kemudian sita saja hasil jarahannya. Betapa menyedihkan pengertian maaf Bapak Yang (tidak) Terhormat itu !
Jadi, kata maaf yang sungguh2 worthy itu bagi saia adalah kesalahan2 kecil yang tidak disengaja, yang hanya menimbulkan luka parut yang segera dapat direcovery sistem tubuh untuk kembali seperti semula, bukan luka menganga yang perih tak terperi.






