Ini adalah semacam killing time, disela-sela deras hujan dan usaha membunuh kebosanan menunggu hujan reda. Membuka2, atau tepatnya melihat, beberapa akun teman di sosial media, membuat saia ingat perilaku pengunjung pameran lukisan; ada beberapa tipe orang pengunjung pameran lukisan, ada yang bertipe kurator, ada yang bertipe penikmat seni, ada juga tipe nemenin teman/saudara/pacar yang berkunjung. Cara orang-orang ini mengapresiasi lukisan yang terpapar di depannya ber-ragam, tergantung minat, tingkat pengetahuannya tentang seni yang berhubungan dengan lukisan. Yang ingin saia bagi adalah ‘petanda.’
Istilah/kata ‘petanda’ adalah istilah terbatas yang kurang lazim, -bukan peRtanda- yang banyak digunakan pada tema-tema yang berhubungan dengan post-modernisme, tentu saja saia tidak pada posisi yang secara meyakinkan dan sahih punya otoritas menggunakan kata-kata ini, karena ‘post-mo’ adalah mekanika kuantum-nya dunia sastra/budaya, sementara saia membaca saja tak mampu, #eh
Tetapi petanda adalah pesan sekaligus simbol yang tidak terbatas pada produk-produk seni/sastrawi, petanda adalah hal yang melimpah di sekitar kita, yang mengirimkan pesan secara sengaja maupun tidak sengaja.
Lalu -hujan tidak terlihat menunjukkan tanda mau berhenti- petanda apa yang mudah dilihat, dibaca, di-apresiasi? mari liat profile picture/avatar di social media. Pesan di social media tidak melulu berupa status, timeline, etc. Tapi juga pesan non teks yang sengaja/sadar maupun tidak sengaja/tidak sadar dipajang. Ada kecenderungan pesan yang tidak sampai atau tidak ditanggapi diulang dan ditegaskan, bagian ini-lah perilaku petanda yang menarik untuk diamati.
Lalu bagaimana caranya? Perhatikan pola -ini memang sejenis “pekerjaan” yang kurang kerjaan- dari beberapa profile picture/avatar teman anda, akan sangat mudah menemukan pola-pola tertentu, bisa pola yang menyangkut jumlah orang dalam satu frame, bisa juga menyangkut jarak shoot; LS-MS-CU, etc.
Pola PP seorang teman saia ada yang seperti ini; shoot: middle shoot dalam ruang, sendiri, dengan 1 properti dominan, dan space tersisa yang cukup luas.. Setiap orang punya pola berulang, kemudian apa sebenarnya pesan yang disampaikan? Kita harus kembali ke pernyataan paling awal, tentang pengetahuan memberi ‘batas’ terhadap apresiasi/pembacaan makna.
Maka untuk pola seperti itu, dengan pengetahuan dangkal saia, pesan yang terbaca adalah kesenyapan yang getir.
wallahua’lam bissawab.







wah saya juga tuh sering pake foto PP seperti itu. ndak nyangka bahkan foto profil/avatar bisa punya makna seperti lukisan.
semua tindak itu punya pesan kawan, dan setiap pesan itu punya makna, nahh.. pemaknaan itu kemudian bisa beragam, tergantung “tingkat pencapaian” pembaca pesan.