Jum’at jam 2 siang awal maret 2011, saia dalam perjalanan pulang kampung, naik angkot dari siteba -biasanya saia pulang pake motor, tapi lisensi saia dicabut sementara- siang yang terik, entah ada hubungannya dengan peningkatan seismik pulau sumatera bagian utara ato tidak, saia tidak tau persis, tapi yang jelas dalam suasana seperti itu, rasanya mendadak seperti orang sakit gigi, tiba-tiba jadi sensitif.., nahh..siang itu supir angkot menyetel lagu dari mp3 player angkotnya dengan gegap gempita-membahana ![]()
Tapi ajaibnya saia tidak tau satu-pun lagunya, tidak merasa terhibur sama sekali, dan semakin bingung, ketika lagu berganti, bunyinya sama, lagu pop bercengkok melayu dan suara vokalisnya ngeden seperti orang sedang *sensor*.
Maka daripada merusak mood, kuping, dan kerapihan aliran darah ke jantung -saia ga tau persis ini ada hub. nya ato tidak
-, maka saia meraba2 tombol HP butut saia, dan mempertanyakan ‘suasana’ ini ke twitter; dengan bunyi kira2 begini: kalo karya ga bermutu lolos ke ruang publik, syapa yang goblok? produser kah? publik sebagai pasar kah? ato dua2nya?
Kebanyakan respon dari teman2 saia menyalahkan produser.., masuk akal juga, tapi menurut saia kasus ini kurang lebih mirip dengan kegusaran orang terhadap mengecewakannya kinerja yang mulia per-siden dan yang mulia anggota depe-er.
Toh orang2 itu, produser ato leg-is-lat-or ato per-siden, tidak pernah memaksa, maka tidak ada alasan yang cukup menyalahkan mereka (saja).
Mereka semua ‘jualan’ dan menemukan kenyataan, banyak yang ‘beli’, maka bintik2 kecil kapitalisme dalam hemoglobinnya akan menginformasikan bahwa ini ‘menjanjikan’ dan ‘layak jual.’
Sementara ‘pembeli’ sebenarnya sudah punya cukup ruang dan waktu untuk menimang2 apa yang mau dibeli, dengan memanfaatkan bekal pengetahuan, akal yang sehat, pikiran yang mandiri, dan (cukup, sedikit saja) estetika.
Lalu, kekeliruan ini sumbangan siapa? bagi saia ini jelas kekeliruan dua2nya, ‘produsen’/'penjual’ yang (semakin) menyampah karena sampahnya laris dan pembeli sampah, yang volume otaknya kian menyusut karena jarang dipakai.
Bagaimana dengan judul di atas?.., ya, kata demokrasi di situ saia maksudkan sebagai proses ‘pembelian’ diri/gagasan sang tokoh oleh khalayak ramai, bukankah dalam khasanah pop, yang mem-per-tuhan-kan angka2 itu, yang terbaik adalah yang terlaris? (dan yang terlaris, dengan segala subyektivitas rasa, pengetahuan dasar, dan estetika tidak selalu berbanding lurus).
Maka (maafkan saia, saia tidak punya kebencian terhadap band/kelompok musik tertentu, tapi lihatlah..) ESTE12 (dengan suara ngeden mendengungnya), debag-indas (dengan kegagapannya), w*li (dengan riff bajakannya), dan kelompok ‘yunomi-sowel’, adalah yang terlaris !
Itulah buah kapitalisme pop, mindless entertain yang sama sekali tidak memperkaya jiwa, junk-food yang menjelma dalam bentuk lain.
Jadi, yang saia khawatirkan adalah bahwa angka2 pencapaian para tokoh hasil ‘upacara-demokrasi’ kita, yang semakin hari semakin kita sesali unjuk-kerjanya itu, adalah produk dari perlombaan angka pop ini, bahwa yang (sedang) terlaris ini adalah (yang paling) sampah, junk-food yang menjelma dalam bentuk lain.
wallahua’lam bissawab.






