Seekor burung betina muda, pemakan hewan2 kecil hinggap di sebuah dahan, tidak jauh dari sebuah delta sungai di sebuah muara, pagi ini adalah sebuah pagi yang sangat cerah, sehingga seperti kelaziman dunia burung, maka burung ini berkicau dengan khusu’-nya, bahkan karena hari ini terasa lebih cerah dari biasanya, sang burung kebablasan waktu berkicaunya, tapi bagi dia itu bukan masalah besar, dia pikir kicauan optimisnya itu impas dengan anugerah indahnya pagi ini.
Ketika matahari mulai menaikkan intensitas sorotannya, maka sang burung mulai ingat kebutuhan dasarnya, yaitu makan, maka dengan pilihan tempat yang sangat strategis itu, diiringi semangat dari suasana pagi yang cerah yang dia peroleh, maka ia pun tidak terlalu memaksakan diri untuk makan dengan segera, “santai aja lah…! alam telah memberikan tanda2 yang positif untuk ku hari ini”, katanya dalam hati.
Maka ketika seekor udang kecil yang baru belajar berjalan muncul ke permukaan air, sang burung cuek saja, pura2 tidak melihat…
Kemudian muncul sekawanan semut dari arah pokok kayu yang mati, beriring2an lewat di bawah dahan tempat sang burung hinggap, burung tersebut merasa geli, “gilee..kalo mereka saya makan, malah lebih banyak energi saya hilang untuk membuka rahang daripada nilai gizi dari masing2 semut ini.. nggak banget dehhh…”
masih dalam hati, karena sang burung juga tidak sampai hati kalo kedengaran sama rombongan semut.
Beberapa saat kemudian lewatlah seekor anak penyu yang sudah cukup kuat untuk turun ke laut, sang burung hanya menggeleng2, “hmmm…cangkangnya terlalu keras…”
Dan entah sudah berapa jenis hewan yang lewat di sekitarnya, sang burung malah semakin sibuk dengan penjuriannya, sehingga kemudian tanpa disadarinya, matahari kembali bersembunyi di ufuk barat…
Tapi sang burung, tetap tersenyum puas, dia merasa hari ini sudah menemukan banyak sekali rahasia hidup, sehingga dia pikir -tepatnya; dia kompromi dengan hatinya- tidak ada masalah dia tidak makan hari ini, toh dia hanya bertengger seharian di dahan, dia yakin mekanisme tubuhnya mampu meng-handle masalah “sepele” ini.
Ketika hari berikutnya akan dimulai, dan perut sang burung mules…dan apa yang keluar kemudian hanyalah air…
Sesaat kemudian dia baru merasa kekosongan dalam perutnya, dia merasa agak sedikit lemas hari ini, padahal hari ini tidak kalah indahnya dari hari kemarin…tapi pandangannya agak berkunang2, seperti ada matahari bundar, besar dan hitam, kemana pun dia menghadap…
Sang burung bingung, ragu, dia tidak dapat mengukur perjalanan hari, karena seringnya dia melihat benda gelap hitam dan bundar di pojok matanya…
“Sepertinya hari mulai sore…”katanya lirih.
Karena keinginannya untuk bertahan hidup, dia berusaha sekuat mungkin membuka mata, dan mem-fokuskan pandangannya, maka ketika dia melihat seekor cacing di permukaan air,-yang menurut kata hatinya terlalu besar sebenarnya untuk ukuran seekor cacing- dia langsung melayang turun dan hinggap di tonjolan kayu bergerigi persis di sebelah cacing itu.
Dan…burung itu hilang di-telan kayu bergerigi itu.
“Aku juga sudah dari kemarin menunggumu, dan aku tau hari ini kau akan memakan apa saja yang menurut pandangan lamur-mu itu bisa kau makan, bahkan kalau gigi2ku ini yang terlihat olehmu duluan, pastilah akan kau kira, biji2an yang juga mengenyangkan untuk dimakan, sebelum tiba2 malam menerkam mu…” gumam anak buaya itu sambil melet2, menyeka bulu2 yang menutupi lubang hidungnya.
*)thx to temen2 kos-ku, karna cerita ini berasal dari diskusi terbuka dan gila2an saya dengan bapak2 itu di sebuah minggu pagi yang cerah; jadi, cerita ini saya dedikasikan untuk beliau berdua; pak sy*kr* dan pak h*rm*n.
Plus sebuah quote dari seorang teman tentang konsepsi di rahim (pak s*b*r), “(jangan2) sel telur itu adalah sebuah entitas pragmatis yang menerima yang tercepat, bukan yang terbaik, karna dalam kesempitan waktu dan ruang dan keriuhan itu, dia tidak sempat berpikir, atau dia memang tidak punya kuasa memilih…







itulah dunia brader..the option is just “..eat or be eat..”
>>>ah, ga slalu bgitu masdab…