Kita hidup saling berdekatan, jadi tujuan utama hidup ini adalah membantu orang lain, dan jika anda tidak bisa membantu mereka, setidaknya janganlah menyakiti mereka [Dalai Lama]
Ini memang tentang Toean Abdoel Moein, anda lihat judulnya ? Riya..!, Ya, ini tentang sesuatu yang diyakini oleh TAM (Toean Abdoel Moein) sebagai perbuatan baik, dan sudah menjadi pengetahuan bagi TAM bahwa perbuatan baik itu sebaiknya tidak digembar-gemborkan, karna akan menjadi jatuh kepada keburukan tak bernilai, riya.
Tapi TAM yakin niat baik menulis ini adalah ajakan, dengan harapan dirinya sendiri, -dan sukur2 pembaca juga- tetap menjaga semangat, dan kepedulian kepada lingkungan sekitar dan memberikan respon yang layak dan cepat.
Minggu ke-3 oktober ini, TAM bertugas mengawasi ujian mid semester, pagi berjalan seperti biasa, sampai kemudian menjelang siang TAM menemukan seseorang bengong di sebuah ruangan, tidak begitu jelas awalnya kenapa orang itu bengong sementara yang lain ujian,… sampai seorang ibu sekira 50 tahunan berkata kepada TAM, “Dik, tolong soal ini dibacakan, ini Mas Eno (bukan nama sebenarnya) tidak bisa membaca soalnya…!”
Dia menderita glaukoma sejak kelas 3 SMP.
Ternyata dari sekian ribu peserta ujian terselip satu orang peserta difabel, dulu sebutannya tuna netra.
Sebenarnya ini kenyataan yang agak aneh.
Tapi TAM tidak ingin memperpanjang pikiran2 anehnya, segera saja dia membantu membacakan soal2 ujian, dan sekaligus menuliskan jawabannya untuk Eno.
Karna ujiannya pilihan ganda, maka TAM membacakan soal persis seperti Tantowi Yahya di Kuis Siapa Mau Jadi Milyuner…
Kemudian untuk ujian sesi kedua, ternyata sudah ada orang, -yang katanya memang bertugas untuk- membacakan soal, seorang ibu 40 tahunan.
Besoknya, TAM sebenarnya tidak punya jadwal mengawas, tapi karena ada janji dengan kolega seniornya, maka TAM berangkat agak siang-an.
Di ruang yang sama, seorang penyandang difabel yang sama, kembali terlihat bengong, di kupingnya tercolok earphone, wajahnya gusar. Sementara di sekitarnya paling tidak ada 6 orang; 4 ibu2 berumur 45-50 an, 2 bapak2 45-50 an juga, definitely tidak sedang mengerjakan pekerjaan yang berarti, atau lebih tepatnya sedang ngobrol…
Dan Eno sudah kehilangan waktu ujiannya lebih dari setengah jam, karna orang2 itu, tidak seorang pun yang ‘bersedia’ membantunya, mereka ‘menunggu !’, “orang yang katanya memang bertugas untuk membacakan soal…”
TAM adalah orang yang naif, kadang2 sangat bodoh sehingga gampang disiasati… dia tidak tega menyaksikan pemandangan ini, bagaimanapun juga ini adalah pengabaian, dan tentu saja ini tidak adil…
Akhirnya, TAM menjadi tukang baca sekaligus menuliskan jawaban untuk Eno, untuk sesi 1 dan 2 ujian hari itu.
Kemudian siangnya, TAM bertemu dengan kolega seniornya itu, kolega seniornya TAM adalah seorang perempuan menjelang 40-an bersuara nyaring dan sedikit annoying..
Siang itu di pelataran tidak jauh dari parkiran, Kolega TAM dan temannya, berbincang2, sebelum pulang.
Sekira dua meter ke timur mereka ada Eno, ibu kolega senior TAM bertanya pada temannya, “dia udah lama ya, nggak bisa liat kek gitu ?, trus belajarnya digabung sama yang normal ? apa nggak mengganggu, ahhh… membebani kelas saja…!”
TAM yakin Eno pasti mendengarnya dengan jelas, secara nyaring biyanget. TAM bukanlah saudara, orang tua, kerabat dari Eno, tapi tiba2 punya keinginan untuk me-lak ban mulut ibu itu.







siiip wot..
>>>halah, kamsute piyee…kiy…
badewei, thx udah bkunjung, baca, dan bkomen…