4 taun yang lalu, tentang hari yang sama (30 sept) saia melakukan penelusuran antropologis yang tidak ilmiah, tentang situasi daerah/kampung saia sendiri di tengah2 zaman “peralihan orde” 1965, situasi kampung saia ketika orang2 komunis di atas angin, maka beberapa hari yang lalu, saia juga melakukan penelusuran antropologis yang tidak ilmiah berdasarkan kejadian di tanggal yang sama, tetapi untuk subjek yang berbeZa.
Saia mulai dari bertanya kepada bapak saia, apakah beliau dimasa kanak2 mengenal ‘istilah daerah’ untuk “-sesuatu yang sekarang diperkenalkan sebagai-” tsunami ?, beliau bilang, ada, dulu orang2 tua menyebutnya sebagai galogho (galoro), kemudian saia juga menanyakan hal yang sama pada nenek saia, ternyata jawabannya pun sama, jadi saia pikir meskipun “pola” gempa besar disertai tsunami ini (ini kalo spekulasi Oom Kerry Sieh ini benar) adalah dalam jarak yang jauh, 200 tahunan, tapi warisan pengetahuannya tidak hilang, dan tentu saja ke-arifan lokal seperti ini bermanfaat, karena biasanya juga disertai “protap”-nya, ..bahwa ciri2 galoro itu blablabla, dan kalo galoro datang, maka harus blablabla… SubhanalLah !
Baiklah, saia akan menyesuaikan judul posting ini dengan isinya. Tapi saia agak ragu, apakah ini bermanfaat, ato bahasa gawl-nya, penting ga sehhh…
Mudah2an saja ada informasi bermanfaat yang dapat diambil dari posting ini.
Saia mulai dari hari senin 28 sept, sejak senin kegiatan saia sudah mulai padat, malah sangat padat, tetapi kepadatan itu semakin memadat lagi setelah saia punya 2 buku khaled hosseini, dan membacanya sampai larut malam, membandingkannya sekaligus…
Dan rabu dinihari, saia sedang berusaha menyelesaikan “a splendid thousand suns” buku kedua pak khaled…
Maka, rabu pagi saia jadi sedikit kedodoran, meskipun habis subuh, seperti biasa saia masih sempat masak (ohh.. poor me… an single parent wanna be, hahaha…), tapi hanya sempat sarapan susu coklat dan beberapa potong sisa kue lebaran yang saia bawa dari rumah, jam 7 sudah harus berada di sekolah, fyuhh…
Siangnya, saia harus terbirit2 ke kampus, karena ada kuliah jam 1.20 (inilah nasib kalo punya banyak istri, [heh ?]), belum sempat makan siang, cuma sempat makan lontong sayur di sekolah.
Selesai kuliah jam 3 lebih dikit, ada sedikit rasa lapar, tapi saia paling nggak suka mengacau pola (jadwal) makan, jadi…, saia langsung ingat penjual gorengan langganan saia (makanan khas pikiran kaum proletar !), saia pikir makan pisang goreng dengan ketan dan teh hambar sambil menunggu rendaman pakaian cukup waktu untuk di cuci (lagi2.. how pity me, single parent wanna be dengan jiwa pembantu..)
Mestinya jam segini jika semua flowchart harian saia berjalan dengan benar, maka saia tidak lagi memakan apapun menjelang setengah empat sore, karena setiap rabu dan jum’at jam 4-6 sore saia latihan di Dojo Aikido di STBA Prayoga, sekira 5 km ke selatan tempat saia tinggal, karena kalo perut diisi menjelang latian sering membuat perut menjadi sakit sebelah…, sekarang saia malah merendam pakaian untuk dicuci…
Jadi saia putuskan hari ini tidak latian, leyeh2 dulu bentar, mengumpulkan tenaga untuk nyuci
Lagi leyeh2 inilah tiba2 ada goyangan, awalnya saia gak begitu ngeh, karena kadang2 kalo kereta lewat, -di timur tempat saia tinggal sekira 200 m ada jalur utama padang-pariaman- terasa goyang juga.
Cuma kok makin keras ? Maka saia langsung terbang ke halaman, kadang2 saia merasa beruntung pernah merasakan gempa2 besar, sehingga saia bisa “mencicipi”-nya, misalnya tentang perbedaan “ayunannya”, tipikal gempa sumatera lebih “santai”, meskipun powernya besar, tapi mungkin amplitudonya besar juga, beda dengan gempa jogja, yang “sangat terburu2″…(mungkin istilah2 yg saia gunakan tidak tepat).
Dari beberapa kali gempa skala 7 SR yang saia rasakan, memang inilah yang terbesar, karena itu pula-lah, setelah reda saia tidak punya pikiran lain, selain menyingkir dari garis pantai sejauh 4 km sesuai prosedur yang telah diajarkan pemda beberapa taun terakhir.
Apa saja yang bisa membunuh anda ketika gempa sudah reda?
Salah satunya adalah genangan air dilantai setelah dispenser dilemparkan entah kemana oleh gempa.
Saia segera ke kamar dan menemukan buku, cd, dan monitor saia berhamburan… dan itu sudah tidak penting bagi saia, saia cuma mencari “tas tsunami” (sesuatu yang sudah saia pelajari dari emergency preparedness USGS sejak 2004), mematikan aliran listrik, mengunci kamar, mendirikan motor yang terjungkal, dan pergi…
Tujuan pertama saia adalah ‘my -one and only one- siz’, karna saia khawatir my bro-in-law sering kerja ke luar daerah…, hanya saja saia ternyata harus menyerah, jalan ke arah ulak karang macet total, maka hanya ada satu opsi, masuk jalur evakuasi tunggul hitam, itu pun sudah mulai macet, sehingga saia terpaksa pilih shortcut masuk ke jalur kereta api.
(fyi; u/ org padang sekitar air tawar yg nanti mungkin akan lewat sini juga jika apa yg disebut sebagai “mega-thrust” ato gempa maha dahsyat itu nanti terjadi, ini mungkin berguna) Akhirnya saia berkesempatan melakukan ’simulasi’ yang sesungguhnya dengan jalur evakuasi ini, maka apresiasi pertama yang bisa disebutkan disini adalah salut untuk anggota TNI, kurang dari 10 menit, beliau2 itu sudah ada di setiap pertigaan/perempatan jalur evakuasi, agak macet menjelang kuburan tunggul hitam, tapi setelahnya cukup lancar, sehingga saia sempat merekam suasana di jalan pake hp (ini agak ngawur, karna saia bawa motor cowok/pake kopling).
Sepanjang perjalanan sebenarnya konsentrasi saia agak kacau, karena sedemikian besarnya gempa, saia merasa rumah bonyok saia di kampung mungkin ambruk, dan kepikiran my luphly nephew…
Dan pikiran konyol saia untuk mengajak Tuhan ber-transaksi pun muncul, sehingga kemudian ketika dua orang perempuan mencegat motor saia untuk “menumpang” mengungsi, saia tidak punya pikiran lain lagi selain membawanya, dengan harapan minimal dua dari empat orang yang saia cintai itu juga mendapat perlakuan yang sama, sukur2 empat2nya…
[hah ! bener2 ga konsisten, karna baru sehari sebelumnya saia membahas tentang kesalahan sifat "amal transaksional" ini dengan temen saia di FB]
[haruskah dilanjutkan?]







semoga semua baik selanjutnya …
Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi
Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalkani hidup ini
Melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal Putus asa
silahkan berkunjung ke blog saya Richocean tentang Dini 9 Okt 2009 Lagi Sukabumi Tasikmalaya Gempa 5.2SR
atau blog saya lainnya Richmountain
salam …
nuhun kang richo..
salam blogwalking too…
amiin..amiinn…