Hampir sebagian besar cerita-cerita, -entah layak disebut hebat, entah malah lebih pantas disebut bodoh-, ditulis dalam bentuk perseteruan baik dengan buruk.
Kebaikan niscaya menang dan kejahatan akan hancur. Yang baik adalah yang sama dengan tuntutan orde, yang jahat adalah yang diluar orde, karenanya harus binasa…
Kemudian jika kedua-nya, dari yang disebut baik maupun yang dituding buruk itu adalah kemenangan semata, dengan kata lain kekuasaan dan dominasi, lalu apakah beda substansial yang bisa memberi kita rasa percaya untuk lebih memilih salah satu dari dua kategori/penamaan baik/buruk tersebut ?
Musuh kebenaran bukanlah ke-tak-benar-an, melainkan kebenaran yang lain.
Kebaikan, kebenaran, atau turunannya yang lain bukanlah sesuatu yang padat, tunggal, karena dia masih berada dalam alam kerangka pikir manusia dengan berbagai paket diri, dan sudut pandangnya sendiri.
Sehingga setiap kebenaran ini begitu cair berlelehan, lalu kepada siapakah kebenaran berpihak ?
Diam-diam, kebaikan/kebenaran (selalu) membangun dan mengadakan yang buruk, karena melalui itu ia mengidentifikasikan diri dan lantas menjual diri.
Maka dari mana lahirnya kejahatan sesungguhnya jika bukan dari kebaikan itu juga.
Maka relasinya pada dasarnya adalah bukan kebaikan yang datang untuk meniadakan kejahatan melainkan kejahatan sengaja diciptakan agar produk kebaikan laku/laris sebagai pemenang.
Dan mengangkangi sejarah.






