Seorang pemuda yang tinggal menunggu hari H wisuda berharap akan mendapatkan hadiah dari bapaknya sebuah kendaraan yang tjantek sangat, yang sudah lama ia idam-idamkan, dan ia tahu bapaknya sanggup membelinya, karena itu pula dia berani menceritakan hal itu pada bapaknya.
Dan hari H wisuda itu datang sudah, pemuda itu menunggu sinyal dari bapaknya bahwa apa yang dia idam-idamkan selama ini menjadi kenyataan.
Pagi itu, bapak pemuda itu masuk ke kamar si pemuda, dan bilang betapa bangganya dia dengan putranya dan betapa dia menyayanginya.
Bapak itu memberikan sebuah bingkisan yang di bungkus dengan sangat indah.
Karena rasa penasaran, maka kotak itu dibuka dengan sangat tergesa dan tentu saja dengan harapan yang sangat tinggi, tetapi harapan memang tidak selalu sesuai dengan kenyataan, si pemuda sangat kecewa ketika yang di dapatinya adalah sebuah kotak yang berisi Kitab Suci.
Dia kecewa, dan bilang kepada bapaknya,”Dengan segala kemampuan yang kau miliki, kau hanya menghadiahi-ku Kitab Suci ? Benda yang juga dulu kau berikan setelah aku berumur 7 tahun, terus apa bedanya pencapaianku sekarang ?”
Dia meninggalkan bapak- dan bungkusan Kitab suci itu, pergi…
Hubungan mereka pun memburuk…
Tahun demi tahun berlalu, hubungan mereka semakin canggung, karena komunikasi yang jarang. Si Pemuda sudah memiliki keluarga sendiri, dan telah mapan, ketika melihat anak-anaknya kemudian tersadar, bahwa dia juga seorang anak dari seorang bapak tua yang sekarang terabaikan karena ego-nya di masa muda. Dia berencana untuk mengunjungi bapaknya dan mengajak keluarganya, ..tetapi belum sempat dia menyusun rencana, sebuah telegram datang mengabarkan bahwa bapaknya sudah meninggal.
Si pemuda pun segera pulang ke kampung halamannya untuk mengurusi segala sesuatunya yang berhubungan dengan tanggungjawabnya, dan memberikan penghiburan kepada ibunya.
Saat sampai di rumah, si pemuda tidak dapat menyembunyikan rasa sesalnya, dia memohon ampun pada ibunya… dengan bijak ibunya mengajaknya untuk menerima kenyataan ini dan menyelesaikan segala sesuatunya yang berhubungan dengan kepergian sang bapak.
Setelah semua selesai dan pikirannya tenang, si pemuda menata kamarnya, ruangan yang sudah begitu lama dia tinggalkan, dan kemudian menemukan sebuah bingkisan yang masih terawat rapi di atas meja belajarnya, yang berisi sebuah kitab suci, dia tidak dapat membendung rasa sedih yang bergemuruh di dadanya, kemudian diambilnya, dan dibukanya Kitab Suci itu dan membukanya halaman demi halaman… dan kemudian tiba-tiba sebuah kunci yang ditempelkan pada sebuah amplop jatuh dari halaman belakang Kitab Suci itu…
Dan dalam amplop itu tertera nama dealer kendaraan yang dulu sangat dia inginkan, dan sebuah kwitansi yang bertanggalkan hari sebelum hari wisudanya dan tertera stempel, lunas !







haha,, po hik’s hik’s apik da..
>>>maturnuwun Min a.k.a Jono Soedirman..