Di sebuah keramaian pada peringatan Hari Percaya Diri Nasional, seorang wanita cantik berdiri di alun-alun dan mengumumkan bahwa dia adalah satu2nya makhluk cantik yang juga mempunyai hati paling cantik di kota itu.
Orang2 segera mengerumuni-nya (saia sedang tidak suka menggunakan kata ‘bergerombol’), dan hampir serempak mereka berdecak kagum melihat hati wanita itu (di jaman super canggih itu, hati manusia sudah portabel, kira2 mirip flashdisk lah !).
Orang2 yang berkerumun (ingat !:bukan ‘bergerombol’), setelah mengintip hati mereka masing2, setuju bahwa hati wanita itu benar2 mulus, tidak ada bekas baret/lecet maupun memar, benar2 hati yang paling indah (jangan ditambah – ‘di negeriku Endonesa’, nanti di marahin Bung AhmadDhani Mangap) yang mereka pernah lihat.
Tiba2 seorang Orang tua menyeruak (bukan ‘muncul’) ke depan kerumunan, dan berkata kepada wanita cantik itu,”Kayaknya hatimu masih kalah sama keindahan hatiku !”
Kerumunan dan wanita itu melihat hati yang di perlihatkan Orang tua itu, hati itu sudah memar disana-sini, penuh bekas luka, dan lecet dan bahkan di beberapa bagian terlihat berlubang, dan bekas tambalan yang tidak rata.
Kerumunan itu gusar, bagaimana mungkin dia bisa bilang kalo hatinya yang lebih cantik dengan kondisi seperti itu ?
Wanita itu bilang “Hahaha…Bapak kalo becanda kebangetan deh, gak lucu ! Coba perhatikan lagi deh, masa yang mulus kayak gini dibilangin lebih jelek dengan yang tambal sulam kayak gitu”
“Ya..ya..ya…” kata Orang tua itu sambil mengangguk2, “Hatimu memang indah kelihatannya…tapi andai saya ditawarkan untuk menukar hatiku dengan hatimu, saia tidak mau. Lihatlah, setiap bekas luka ini adalah mewakili seseorang yang saia cintai…saia memberi sebagian hati ini kepadanya…dan sering mereka membalasnya dengan memberikan juga sebagian hati mereka sebagai tanda bahwa mereka juga mencintai saia, tetapi kadang2 ukurannya nggak pas, itulah sebabnya ada tambalan2 yang tidak rata di hatiku, melihatnya selalu memberikan kenangan indah tentang mencintai dan dicintai”.
Pernah juga saia berikan sebagian hati saia pada orang…tapi kemudian orang itu pergi begitu saja, tidak memberikan sebagian hatinya padaku…itulah sebabnya ada bagian yang berlubang, meskipun kadang2 rasanya tidak nyaman, karena ada yang bolong, tapi paling tidak mengingatkanku bahwa saia pernah memberikan cintaku dengan tulus…dan mungkin suatu hari nanti mereka akan datang, dan memberikan sebagian hatinya untuk mengisi bagian yang kosong ini”.
“Bagaimana dengan kisah hatimu wahai wanita cantik ?, adakah lebih indah dari kisahku ini?” tanya Orang tua itu. Wanita itu terdiam, tiba2 dia merasa kesepian, hatinya hanya miliknya tidak pernah menjadi bagian dari yang lain begitu juga hati yang lain tidak pernah menjadi bagian dari hatinya…kemudian dia mengambil bagian terindah dari hatinya, dan dengan agak ragu2 dia ulurkan (bukan ‘berikan’) kepada Orang tua itu.
Orang tua itu menerimanya, dan mengambil sebagian hatinya yang sudah penuh bekas luka dimana2 itu, kemudian memberikannya kepada wanita cantik itu. Masing2 memasangnya, tidak begitu pas, menggelembung disana-sini.
Wanita cantik itu melihat hatinya, sudah tidak se-mulus sebelumnya, tapi dia merasa nyaman dan merasa hatinya lebih indah dari sebelumnya karena cinta dari orang yang memberikan hatinya kepada Orang tua itu juga mengalir padanya.






