Seperti sebuah mata kuliah, ada beberapa pra-syarat sebelum anda berniat membaca tulisan ini, syarat pertama adalah anda harus membaca dulu posting ini, kemudian sudah pernah membaca buku2 tentang kecerdasan emosional, dan kumpulan cerpen seno gumira ajidarma.
Ini adalah tentang toean abdoel moe’in (rentjananja dalam banjak sekali posting dimasa hadapan, saia akan kerap memakai nama tokoh ini, seperti yang sering dilakukan seno g.a, dengan tokoh sukab-nya).
Sekali lagi ini tentang kisah toean abdoel moe’in, based on true story, beliaoe adalah seorang peng-laju, ataw boleh ju(g)a disebut sebagai orang yang kerap (maap, saia sedang tidak suka menggunakan kata ’sering’), bolak-balik antar kota kecil dalam propinsi. Beliaoe kerap naik travel liar-plat hitam karena memang sistem transportasi di tempatnya sangat bobrok, sehingga pilihannya terbatas.
Syahdan pada suatu ketika, toean abdoel moe’in bepergian sehabis maghrib, dan tentu saja naik travel liar-plat hitam seperti yang telah disebutkan diatas.
Supir (dalam kamus besar bahasa Endonesa, yang benar ‘Sopir’ ‘pa ‘Supir’ siy ?), supirnya seorang yang berkesan punya religi-o-sitas yang tinggi dan baru saja selesai menunaikan rukun ibadah ke-lima.
Jadi perjalanan ini kelihatannya akan menarik, karena ada beberapa kesamaan antara toean abdoel moe’in dengan toean soepir, iaitoe; anti rokok, dan nilai religi-o-sitas.
Boelan-madoe ini tidak berlangsung lama, karena kemudian toean soepir, moelai rakoes, menambah penumpang melebihi kapasitas mobilnya, dan ternyata kemoedian toean soepir adalah seorang yang tidak berkompeten mengemudi, di jalan yang mestinya menurut akal sehat bisa lebih kencang, malah tetap lambat, karena toean soepir juga moelai sibuk dengan dakwah2-nya.
Dan toean abdoel moe’in mulai being irritated, betapa tidak, untuk sebuah perjalanan sekira 140 km (kira2 seperti dari Leicester ke London lah….oh, maap belom pernah ke UK ya? ato seperti dari Frankfurt ke Pforzheim…ke Deutsch belom juga ? ya maap !), maka ruksah (kemudahan) untuk men-jamak shalat isya tentu saja sah2 saja dilakukan, tapi tidak untuk toean soepir, dia brenti dekat seboeah masjid dan sholat (toean abdoel moe’in kebetulan sudah menjamak shalatnya), lumayan lama…
Toean abdoel moe’in adalah seorang yang cerdas, bukan saja secara kognitif, tapi juga secara emosional, dia punya se-gudang skenario mulai dari yang paling busuk sampai yang paling indah (makanya baca posting ini), akhirnya toean abdoel moe’in memutuskan untuk mencoba menikmati perjalanan dengan meng-drive dakwah dan percakapan toean soepir (kebetulan juga, toean abdoel moe’in duduk di depan ataw jejer-an sama toean soepir).
Toean abdoel moe’in mulai nanya, rumahnya toean soepir dimana, ndilalah-e, rumah toean soepir bersebelahan dengan rumah teman se-kerja daripada bapak toean abdoel moe’in, dan toean supir mulai kebablasan, pembicaraannya mulai mengarah pada pergunjingan tetangganya itu, dan toean abdoel moe’in menangkap kesempatan ini, untuk menjalankan skenarionya, toean abdoel moe’in tidak peduli bahwa umur toean soepir se-umuran dengan bapaknya, gantian toean abdoel moe’in yang berceramah tentang ghibah dan akibat dari orang yang suka ghibah…
Aha…!…perjalanan ini mulai menyenangkan…
Toean soepir had been got stabbin’ tepat di hulu hatinya, tapi toean soepir adalah orang yang bisa cepat pulih, dia mulai membual tentang banyak hal, dan seperti sejak awal diceritakan bahwa kemampuannya menyetir sangat parah, ditambah lagi konsentrasinya yang pecah karena bualan2 besarnya, maka toean abdoel moe’in menyiapkan the killin’ punch, toean abdoel moe’in menelpon ke rumahnya dan bilang kalo beliaoe mungkin akan sampai di rumah dini hari, orang tua toean abdoel moe’in kaget karena tidak biasanya toean abdoel moe’in sampai se-malam itu, dalam pembicaraan telpon yang tentu saja terdengar sama toean soepir itu, toean abdoel moe’in bilang “gimana bisa cepat nyampe rumah, wong lari mobilnya gak pernah nyampe 60 km/jam !”.
Aha…!…perjalanan ini makin menyenangkan…
It’s a big punch !, defensive behavior-nya toean soepir keluar, toean soepir sibuk membela dirinya, sementara toean abdoel moe’in malah berlaku persis psikopat, seolah2 tidak bersalah dan pura2 tertidur…






