Saia ndak taw persisna, tulisan profesor dalam Ejaan Yang Ditambalsulam-kan[EYD] itu kek gimana. tapi saia taw, kalo ngobrol sama para profesor2 itoe enak, lucu, bodoh, gila, asem, asin, rame rasanya.
[sebenarnya tulisan ini tidak layak untuk di konsumsi oleh umum, karena tidak berisi/bermakna dan mungkin sedikit ofensif, tapi paling tidak dapat dibaca sebagai 'sekedar'-sharing].
Profesor pertama yang ingin saia ceritakan adalah profesor spesialis quantum physics lebih detilnya lagi, simetri atawa pencerminan di awan2 elektron dalam hitung2an yang may be/probably. Niat awalnya mo tanya2 soal mata kuliah malah ngobrol kemana2 soal Nuklir, Uranium, dan Papua yang indah [fyi, saia kuliah suka make tas tradisional Papua, meskipun saia tidak ada darah papua, saia termasuk pecinta negeri papua juga, karena selalu menyimpan mimpi untuk mendaki puncak cartens, dan satu lagi yang agak pekok, foto di kartu perpus UPT-pusat ku yang kutempelkan adalah foto edo kondologit ukuran 3x4, hahaha...g penting banget ya !].
Begitu sampai kepada jawaban materi2 kuliah yang ditanyakan, maka contoh2nya kebanyakan dari dunia politik dalam pisau bedah filsafat dan joke2 jayus.
Selalu begitu, semua hal dibahas dalam sudut yang malar-komprehensif yang terkuantisasi. Berputar2 dalam usaha menghasilkan konklusi yang rumit dan saling melemahkan/bertentangan.
Profesor laennya adalah yang aku tulis di postingan “14 februari dan bau uap nasi”, berbicara tentang enforcement dan punishment dalam dunia pendidikan sambil nonton kebakaran [emang nonton doang, karena dilarang satuan pemadam untuk berpartisipasi]. mungkin karena ada kemungkinan sepersekian dari ma-destiny untuk jadi pengajar, maka saia interest untuk menanggapi, tapi sekali lagi, sangat rumit, bayangkan seorang pengajar dibawah supervisi seorang profesor itoe, apapun tindakan/ganjaran/punishment kepada pelajarnya, sudah dapat dipastikan akan dikatakan salah, lalu yang benar2nya gimana? there is no fixed answer. Berputar2 dalam usaha menghasilkan konklusi yang rumit dan saling melemahkan/bertentangan.
Ada lagi profesor yang tidak kalah hebatnya, suka bercerita tentang pendidikan di Australia, Singapura, Jepang, Ingris, etc.
Tentang kemajuan pendidikan negara2 tsb, kecanggihan sistem belajar, kesuksesan mereka menelurkan SDM2 yang cerdas.
[inilah bagian yang paling rumit berbicara dengan orang hebat, lebih tua, dan tetap harus ingat unggah-ungguh, kato nan ampek-kato mandaki-kato manurun, anda akan merasa tidak nyaman menyatakan pendapat, jadi ditelan saja].
Bangsa kita memang terlalu miskin untuk model2 pembelajaran yang canggih, tapi ada satu hal mendasar yang mestinya dapat dijadikan titik tolak, kalo memang mau sungguh2 mau menelurkan SDM2 yang tangguh itoe tadi, yaitu jumlah efektif pelajar dalam satoe kelas yang sekira 15-an orang itoe saja, tidak pernah bisa di realisasikan.
Lalu, bagaimana mungkin ? Eh malah ada yang latah, mengibarkan bendera ‘SBI’=sekolah berstandar internasional(???), internasional dari hongkong !
Apa kata dunia ?
Ada satoe lagi profesor, tetangga tempat tinggal saia persis sebelah utara kos, profesor hukum yang humanis, tempat nitip kunci kos kalo saia lagi mudik. Mungkin umurnya sudah hampir 80 tahun, tapi ingatannya , subhanaLlah !
Dari profesor satoe ini, paling tidak saia bisa belajar, bagaimana nelangsanya menjadi orang tua/sepuh, apalagi “mantan” profesor, setelah semua tugas formal selesai-jabatan ditanggalkan, you r just become none…, bayangin…none-nothing, dan saia pikir semua pekerjaan yang punya pengaruh luas di masa lalu, cengkeraman post power syndrome itu sulit didamaikan, jadi gak perlu menjadi tua dulu untuk belajar menjadi someone who just none-nothing, dan terus belajar meng-ajeni orang tua/sepuh karena mereka adalah makhluk yang semakin perasa.






