hampir selalu di setiap awal postingan saia harus menuliskan kata maaf, karena judul postingan saia sering tidak jelas, asal2an, ngawur,..tapi itulah enaknya punya blog, saia bisa menulis se-enak udel saia [jangan khawatir, saia orang yang tjoekoep bertanggungjawab, jadi tidak akan ada fitnah dan sejenisnya disini].
posting pendek ini tentu saja tentang tragedi pembagian zakat yang merenggut 21 nyawa di jawa timur itu, saia tidak ingin ikut2an menyalahkan yang memberikan zakat, ato masyarakatnya, polisinya, apalagi pemerintahan.
saia cuma mo mengajak kita semua [termasuk diri saia sendiri tentu saja] untuk kembali meninjau konsep beramal dan pelaksanaan niat baik.
berbuat baik/kebaikan dan menjauhi kemungkaran itu sudah sangat jelas merupakan perintah dari Allah SWT.
cuma jangan sampai melupakan tata cara-nya, baik tata cara yang di tuntunkan oleh Ushul Fiqih, maopun tata cara prosedur operasional.
kadang2 orang sering menganggap berniat baik saja sudah lebih dari cukup, sehingga ketika sampai pada urusan eksekusi dari niatnya itu, cenderung “langsung saja”, “ngapain rumit2 amat”, sehingga akhirnya mengabaikan kemungkinan2 terburuk dari perbuatan baiknya, karena merasa niat baiknya sudah lebih dari cukup, sehingga tidak perlu lagi belajar tentang tata cara/prosedur, etc; biar yang laen yang ngurus.
sedikit ilustrasi tentang kebutaan tentang cara/prosedur berbuat baik berikut ini mungkin agak pas.
seorang bocah dengan wajah yang sangat gembira berlari ke arah orang tuanya…
ayah : ada apa anak ku, keliatannya kamu senang sekali ?
anak : yah, saia baru saja menyelamatkan anak kucing yang kecemplung di got !
ayah : anak pinter, ayah bangga sekali denganmu, sekarang dimana anak kucingnya ?
anak : dijemuran ! saia gantungin biar cepet kering.
ayah : #@*#??
walahua’lam bissawab.






